Sudah berapa banyak asa yang di berikan untuk menghapus jejak kaki para pendosa..langitpun murung diterjang badai lautan dan bergejolak menahan hantaman angin kematian, sejenak jata berdiam menanti tangan kepuasaan hidup yang hilang….sirna –sirna lah….
Membumikan Kemanusiaan
Ditulis dalam Uncategorized
Revitalisasi Semangat Hijrah
Menuju Revolusi Peradaban yang Berketuhanan
Oleh : SYAFITRIANDY
Aktivis Harakie Institute dan Staff Kaderisasi KAMMI Daerah Kepulauan Riau
Ketika kita merasakan hidup sebagai seorang muslim, maka akan ada keinginan-keinginan yang mengiringi gerak langkah kita untuk menjaga agama ini agar terjaga eksistensinya. Dalam melaksanakan keinginan tersebut perlu ada semangat dan upaya merefleksi masa lalu untuk menciptakan masa depan peradaban yang lebih baik dengan berkaca pada sejarah. Salah satunya adalah menghadirkan kembali semangat mempelajari perkembangan peradaban islam, salah satu sejarah yang spektakuler adalah Peristiwa Hijrah.
Peristiwa hijrah bermula dari kegelisahan Muhammad sewaktu menyaksikan derita umat Islam yang datang bertubu-tubi akibat tindakan represif kaum Quraisy. Penderitaan itu menjadi hal yang wajar ketika Muhammad meneriakan revolusi moralitas dan religiusitas masyarakat Makkah yang sudah jauh melampaui batas kewajaran. Muhammad memperjuangkan pembebasan dari ketertindasan, sementara kaum Quraisy berusaha mati-matian melanggengkan kemapanan yang menguntungkan. Tak pelak, Muhammad dengan Al-Quran dipandang sebagai ancaman serius bagi kelangsungan kenikmatan kuasa kaum Quraisy. Karena itu, tak ada pilihan lain bagi kaum Quraisy kecuali melenyapkan Muhammad, setidaknya menyurutkan perjuangan Muhammad. Muhammad sempat berkata,” seandainya matahari ditaruh ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku, aku tak akan mundur”. Namun siksaan dan penderitaan yang dilancarkan oleh kaum Quraisy terhadap Muhammad dan pengikutnya sudah mendekati titik yang tidak manusiawi. Akhirnya pada tahun 622 M, menyadari penderitaan yang selalu dialami kaum muslim, Muhammad beserta pengikutnya berangkat untuk melakukan eksodus penyelamatan yang nantinya dikenal dengan sebutan hijrah. Tak disangka di kota ini, mengutip Huston Smith, pemuda yang pernah dianggap ”gila” oleh penduduk Makkah berubah menjadi seorang pahlawan sejati. Begitu pula syair suci yang pernah dianggap sumbang telah menjadi siraman spiritual yang paling berharga. Dikota inilah titik awal peradaban Islam dibangun. Madinat an-Nabi yang selanjutnya menjadi nama pengganti Yastrib merupakan monumen sejarah kebangkitan peradaban baru Islam.
Hijrah; Revolusi peradaban tanpa kekerasan
Puncak kegemilangan sejarah Islam lewat momen hijrah patut dibilang sebagai sebuah revolusi tanpa kekerasan yang pertama kali dalam sejarah. Dalam waktu yang cukup singkat Muhammad mampu mengubah wajah kota Madinah dari pola masyarakat yang diskriminatif, primordialis-fanatis dan eksklusif menjadi masyarakat yang terbuka, egaliter, dan penuh dengan nilai-nilai persaudaraan. Kota Madinah yang awalnya selalu diselimuti oleh pertentangan antar suku menjadi komunitas yang dipenuhi oleh semangat kolektif untuk membentuk peradaban baru. Atas kesuksesan ini sangat beralasan bila Michael Hart dalam The 100: A Rangking of The Most Influental Person in History telah menempatkan Muhammad pada urutan pertama. Muhammad tidak hanya sukses membangun peradaban baru Islam tetapi juga mampu mengkombinasikan unsur sekuler dan agama dalam satu racikan peradaban Madina. Muhammad tidak hanya tampil sebagai seorang agamawan yang selalu mendermakan pesan spiritualnya, tetapi ia juga tampil sebagai negarawan yang adil dan bijaksana. Islam telah didudukan tidak hanya sebagai agama yang berisi panduan ritual, tetapi juga sebagai etik-moral yang selalu hidup ditengah masyarakat. Menyadari keagungan sejarah ”Hijrah” ini maka tidak khilaf apabila ummat Islam menetapkan tahun barunya dengan merujuk pada sejarah hijrah. Hal ini mempunyai arti bahwa lembaran baru Islam tidak dibuka dengan keagungan seorang tokoh semisal dengan memperingati kelahiran nabi. Akan tetapi Islam mengawali setiap lembaran barunya dengan semangat kelahiran peradaban baru Islam di Madinah.
Kita tentunya menaruh harapan pada peringatan hijrah kali ini, yang bertepatan dengan 18 Desember 2009. Sudah seribu empat ratus tiga puluh satu peristiwa ini berlalu, dan setiap tahun kaum muslimin kembali diingatkan dengan memori keemasan sejarahnya. Tentunya dengan memaknai peristiwa hijrah ini akan memunculkan sebuah sikap yang akan melahirkan kekuatan yang merevitalisasi dan mampu mendorong semangat kita sebagai orang yang merasa memiliki agama ini untuk lebih mempertegas jati diri kita sebagai Muslim yang mempunyai semangat perubahan sebuah peradaban yang lebih baik dan agar Islam tak sekedar kata pelengkap hidup semata.. Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 H !!!***
Ditulis dalam Uncategorized